[sdf_hero id=”sdf-row-1″ last=”yes”][sdf_col id=”sdf-col-1″ width=”1/1″][sdf_image id=”sdf-element-0″ module_width=”1/1″ title=”” alt_text=”” image=”https://ifx.market/wp-content/uploads/CurrencyPuzzle1.png” top_margin=”” bottom_margin=”” entrance_animation=”No” entrance_animation_duration=”” image_alignment=”left” image_size=”sdf-image-md-12″ image_shape=”square” lightbox=”no” link=”” link_title=”” target=”” nofollow=”no” class=””][/sdf_image][sdf_text_block id=”sdf-element-1″ module_width=”1/1″ top_margin=”” bottom_margin=”” text_alignment=”left” font_family=”” font_size=”” text_color=”” entrance_animation=”No” entrance_animation_duration=”” link=”” link_title=”” target=”” nofollow=”no” class=””]Berita forex di hari Jumat(29/4), pasar mata uang wilayah Eropa baik untuk euro dan poundsterling terpantau bergerak di jalur hijau, terdukung oleh melemahnya greenback pasca melambatnya pertumbuhan ekonomi di wilayah Amerika Serikat.

Ditengah akhir waktu perdagangan sesi Asia berlangsung, EURUSD terpantau naik 0.36% dengan diperdagangkan lebih tinggi pada level 1.1393 dimana pasangan tersebut bergerak menyentuh level low di 1.1349 dan 1.1397 untuk level high. Sedangkan untuk mata uang utama Inggris, GBPUSD terpantau naik 0.27% dengan diperdagangkan pada level 1.4648 dan untuk pergerakan harian telah menyentuh level low di 1.4586 dan level high pada 1.4657.

Penyebab utama kegagalan dollar AS untuk bertahan menguat terhadap mata uang utama dunia dalam beberapa waktu terakhir telah dipicu pernyataan Federal Reserve Kamis dini hari kemarin. Seperti apa yang telah diperkirakan sebelumnya, hasil pertemuan kebijakan FOMC bulan April yang dirilis pada pekan ini berisikan bahwa The Fed kembali menunda kenaikan suku bunga mereka untuk ketiga kalinya sejak Januari 2016 silam.

Faktor lain yang menjadi pemicu pelemahan greenback terjadi dikarenakan oleh pertumbuhan domestik bruto AS yang melambat untuk periode kuartal pertama. Berdasarkan laporan resmi yang dirilis oleh Biro Analis Ekonomi menyebutkan bahwa PDB AS naik sebesar 0.5% untuk kuartal satu, lebih rendah dari sebelumnya yang mana telah naik sebesar 1.4%.

Sementara dalam mengakhiri pekan perdagangan ini, nantinya pasar akan dihadapkan dengan serangkaian laporan fundamental ekonomi AS yang meliputi data belanja dan pemasukan pribadi warga Amerika, PMI Chicago serta index sentimen konsumen di negeri Paman Sam. Dengan demikian, hal ini diperkirakan mampu memberikan gejolak pasar forex maupun commodity metals. [/sdf_text_block][/sdf_col][/sdf_hero]


Tinggalkan Balasan